22 May 2009

Menghitung = Memperhitungkan?

Jalinan darah bergerak dalam tekanan-tekanan perjalanan waktu. Apa yang sesungguhnya membuat manusia hidup? Para ahli bertengkar hingga berurat mendiskusikan topik ini. Kapan pula manusia dikatakan mati? Boleh jadi sampai kiamat pun takkan didapatkan jawabannya. Manusia menjalani hidup bagaikan tetesan hujan yang terjatuh dari langit. Tak ada satupun yang kuasa menghentikannya. Angin kencang bahkan hanya mampu memperlambat dan merubah arah, namun tidak membalikkan atau memutar ulang perjalanannya.

Kehidupan adalah proses mencari kebenaran, setidaknya begitu celoteh para ulama. Kebenaran pun menjadi titik kepastian yang sulit dihilangkan. Barangkali hal ini yang kemudian menjadikan pelajaran matematika menjadi penting walaupun sedemikian sulitnya. Doktrin buku sekolahan yang membosankan pun mengaku telah mengajarkan kebenaran. Pertanyaan berikutnya adalah apakah kepastian juga adalah sebuah kebenaran? Jika ilmu eksakta adalah kepastian, maka apakah matematika juga adalah kebenaran? Rasanya tidak.

Setiap murid diajarkan di sekolah dahulu bahwa dua ditambah satu akan menjadi tiga. Sekarang saya yang bertanya pada Anda, angka tiga itu adalah kepastian, kebenaran, atau sesuatu yang diyakini karena sejak dahulu sudah begitu adanya?

Fakta yang terjadi tidaklah selalu begitu. Kita semua tahu jika satu kandang diisi dua singa ditambah satu rusa, jumlahnya tidak akan pernah menjadi tiga. Yang kemudian layak disebut hasil penjumlahan tersebut hanyalah dua singa dengan perut kenyang dan serpihan-serpihan tubuh rusa yang tercabik-cabik, itupun jika dua singa tersebut tidak kemudian melanjutkan pertempuran antar mereka sendiri.

Matematika tidak terlalu penting bila kasuistiknya bicara tentang kehidupan. Karena dalam kehidupan kita, hal yang tidak diperhitungkan lebih dominan untuk merubah jalan kita. Manusia menjadi lebih bijaksana saat ia bisa memperhitungkan apa yang tidak dilihatnya. Dan manusia juga bisa menjadi begitu tersesat, justru hanya karena ia terlalu serius menghitung apa yang terlihat. Percayakah Anda?

No comments:

Post a Comment