16 May 2009

Transformatoria

Bangsa yang maju seringkali diidentikkan dengan berapa banyak jumlah orang berduitnya, atau dengan kata lain adalah berapa banyak warga negara yang berstatus konglomerat dengan jaringan bisnis yang menggurita di seantero jagad. Pendefinisian seperti inilah yang membuat negara-negara yang lebih dulu digdaya macam Amerika, Inggris, Jerman, dan beberapa negara ras mancung di bumi ini menjadi seperti tidak tergoyahkan di puncak sana. Negara-negara dunia ketiga seperti kebanyakan negara Asia dan Afrika bagaikan tak punya daya apapun untuk melakukan perlawanan.

Namun siapa yang menasbihkan kalau negara maju berdefinisi begitu, konsensus umum atau hanya sempalan doktrin yang ditinggalkan penjajah-penjajah kita dahulu? Entah memang lupa atau barangkali wabah pikun sedang populer saat itu, karena faktanya penjajah-penjajah kita dahulu sungguh lupa mengajarkan satu poin penting dalam standar kemajuan suatu bangsa.

Bangsa yang maju tak diukur dari tinggi badan mayoritas penduduknya, juga bukan dari selera pastel krayon yang dipakai Tuhan untuk mewarnai kulit kita.

Bangsa yang maju adalah bangsa yang sedemikian rupa berhasil menempatkan perubahan sebagai unsur vital dalam sejarah bangsanya. Hal ini yang kemudian menjadi jawaban mengapa Jerman masih disegani hingga kini walau sebagian besar buku sejarah di dunia ini mencatat kebengisan Hitler dahulu. Percaya atau tidak, arogansi Amerika kala di bawah komando Bush yang telah menelan berjuta bencana di dunia akan menguap terlupakan begitu saja karena perubahan kebijakan yang dilakukan Obama dan kabinetnya. Komponen dominan kemajuan bangsa ternyata hanya terletak pada perubahan itu sendiri dan momentum saat perubahan itu dilakukan. Kepintaran mengendalikan dua faktor ini secara imajiner akan menimbulkan kesan bangsa raksasa dengan image yang cerdas dan bijaksana.

Sayang negara kita masih terlalu jauh dari pemikiran cerdas macam ini. Bangsa kita masih berkutat pada transformasi ketokohan yang tak jelas sistem dan hasilnya. Saat kampanye Pemilu bukan main hujatan dan kritikan saling berterbangan ke arah lawan-lawan politik sang jagoan kesiangan. Hebatnya lagi hal itu dilakukan dengan mengatasnamakan rakyat. Padahal kenyataanya rakyat tak pernah tahu apa bedanya strategi pemerintahan di era Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, dan Pasca-reformasi sekarang ini. Lantas perubahan apa yang sebenarnya telah mereka lakukan? Aneh...

No comments:

Post a Comment