22 Aug 2010

Manusia Merah Putih

Aku berlari
Tapi cepatku tak cukup kencang untuk mengejar
Sesak, tapi biarlah
Aku hanya ingin mendatangimu

Aku berdiri
Tapi kakiku tak cukup kokoh untuk menapak
Gemetar, tapi biarlah
Aku hanya ingin meraihmu

Aku melihat
Tapi mataku tak cukup tajam untuk memilah
Kabur, tapi biarlah
Aku hanya ingin memandangmu

Aku mendengar
Tapi telingaku tak cukup peka untuk mencerna
Samar, tapi biarlah
Aku hanya ingin menguping gumamanmu

Aku berteriak
Tapi suaraku tak cukup keras untuk memanggil
Lirih, tapi biarlah
Aku hanya ingin berbisik padamu

Aku tahu cacatku
Aku tahu kelemahanku
Aku tahu kau tahu aku
Aku tahu Tuhan tahu aku
Aku tahu Tuhan akan membantuku
Aku tahu Tuhan akan mengampuniku
[baca selengkapnya...]

Aku Yang Menulis Lagi

07:47
Entah hantu apa…entah setan apa…entah malaikat macam apa…
Tapi kini keputusan telah dijatuhkan, keputusan yang menghujam dan (semoga) sulit dihentikan. Keputusan yang mungkin tak berarti bagimu, tapi bagiku itu lebih dari sekedar menghidupkan kehidupan. Dan di bawah matahari yang sama seperti saat tahun-tahun yang lalu, hari ini aku bersumpah..……….aku akan menulis (lagi).

09.12
Bagian ini adalah kelanjutan yang kutulis berselang jam dari bagian pertama di atas. Bahkan bagian pertama itu sesungguhnya sama sekali tak ingin kupublikasikan. Hanya curahan pemikiran, atau curahan perasaan lebih tepatnya. Bukan untuk konsumsi publik, hanya penyemangat saja. Sungguh.

10:03
Kepalaku meradang. Buntu oleh nanah-nanah perubahan zaman. Cairan otakku bahkan mengering dan meninggalkan retakan kedunguan. Kemana hilangnya pemikiran liar itu?

13:14
Hari ini bisa jadi hari terburuk dalam hidupku. Bagaimana tidak? Aku bersumpah dan melanggarnya di hari yang sama. Tulisanku sepertinya tak akan lahir (lagi) hari ini. Kecewa.
Apakah Shakespeare pernah mengalami masa-masa seperti ini? Apakah Goethe pernah kehilangan inspirasi? Apakah aliran sungai ide de Cervantes pernah membeku dan tak kembali?

16:48
Ah sudahlah. Hari ini memang bukan takdir bagi tulisanku untuk lahir kembali. Biarlah ia teronggok di sana, di pojok kedamaian, di tempat yang hanya bisa diraih di saat yang tepat. Biarlah ia bersama dunianya, bebas berkenalan dengan siapa saja, bebas bepergian kemanapun ia suka. Hingga nanti saat ia kembali, ia akan menjadi lebih dewasa hingga bisa lebih memahami. Memahami bahwa dunianya tak lagi berputar seperti bertahun-tahun yang lalu, dunia yang kini bisa mengancam masa depannya jika ia keliru bertutur, dunia yang menuntut kehati-hatiannya. Akan tetapi, aku bisa pastikan pada kalian semua…ia akan tetap terlahir merdeka. Scribo Ergo Sum.
[baca selengkapnya...]

22 May 2009

Menghitung = Memperhitungkan?

Jalinan darah bergerak dalam tekanan-tekanan perjalanan waktu. Apa yang sesungguhnya membuat manusia hidup? Para ahli bertengkar hingga berurat mendiskusikan topik ini. Kapan pula manusia dikatakan mati? Boleh jadi sampai kiamat pun takkan didapatkan jawabannya. Manusia menjalani hidup bagaikan tetesan hujan yang terjatuh dari langit. Tak ada satupun yang kuasa menghentikannya. Angin kencang bahkan hanya mampu memperlambat dan merubah arah, namun tidak membalikkan atau memutar ulang perjalanannya.

Kehidupan adalah proses mencari kebenaran, setidaknya begitu celoteh para ulama. Kebenaran pun menjadi titik kepastian yang sulit dihilangkan. Barangkali hal ini yang kemudian menjadikan pelajaran matematika menjadi penting walaupun sedemikian sulitnya. Doktrin buku sekolahan yang membosankan pun mengaku telah mengajarkan kebenaran. Pertanyaan berikutnya adalah apakah kepastian juga adalah sebuah kebenaran? Jika ilmu eksakta adalah kepastian, maka apakah matematika juga adalah kebenaran? Rasanya tidak.

Setiap murid diajarkan di sekolah dahulu bahwa dua ditambah satu akan menjadi tiga. Sekarang saya yang bertanya pada Anda, angka tiga itu adalah kepastian, kebenaran, atau sesuatu yang diyakini karena sejak dahulu sudah begitu adanya?

Fakta yang terjadi tidaklah selalu begitu. Kita semua tahu jika satu kandang diisi dua singa ditambah satu rusa, jumlahnya tidak akan pernah menjadi tiga. Yang kemudian layak disebut hasil penjumlahan tersebut hanyalah dua singa dengan perut kenyang dan serpihan-serpihan tubuh rusa yang tercabik-cabik, itupun jika dua singa tersebut tidak kemudian melanjutkan pertempuran antar mereka sendiri.

Matematika tidak terlalu penting bila kasuistiknya bicara tentang kehidupan. Karena dalam kehidupan kita, hal yang tidak diperhitungkan lebih dominan untuk merubah jalan kita. Manusia menjadi lebih bijaksana saat ia bisa memperhitungkan apa yang tidak dilihatnya. Dan manusia juga bisa menjadi begitu tersesat, justru hanya karena ia terlalu serius menghitung apa yang terlihat. Percayakah Anda?
[baca selengkapnya...]

16 May 2009

Transformatoria

Bangsa yang maju seringkali diidentikkan dengan berapa banyak jumlah orang berduitnya, atau dengan kata lain adalah berapa banyak warga negara yang berstatus konglomerat dengan jaringan bisnis yang menggurita di seantero jagad. Pendefinisian seperti inilah yang membuat negara-negara yang lebih dulu digdaya macam Amerika, Inggris, Jerman, dan beberapa negara ras mancung di bumi ini menjadi seperti tidak tergoyahkan di puncak sana. Negara-negara dunia ketiga seperti kebanyakan negara Asia dan Afrika bagaikan tak punya daya apapun untuk melakukan perlawanan.

Namun siapa yang menasbihkan kalau negara maju berdefinisi begitu, konsensus umum atau hanya sempalan doktrin yang ditinggalkan penjajah-penjajah kita dahulu? Entah memang lupa atau barangkali wabah pikun sedang populer saat itu, karena faktanya penjajah-penjajah kita dahulu sungguh lupa mengajarkan satu poin penting dalam standar kemajuan suatu bangsa.

Bangsa yang maju tak diukur dari tinggi badan mayoritas penduduknya, juga bukan dari selera pastel krayon yang dipakai Tuhan untuk mewarnai kulit kita.

Bangsa yang maju adalah bangsa yang sedemikian rupa berhasil menempatkan perubahan sebagai unsur vital dalam sejarah bangsanya. Hal ini yang kemudian menjadi jawaban mengapa Jerman masih disegani hingga kini walau sebagian besar buku sejarah di dunia ini mencatat kebengisan Hitler dahulu. Percaya atau tidak, arogansi Amerika kala di bawah komando Bush yang telah menelan berjuta bencana di dunia akan menguap terlupakan begitu saja karena perubahan kebijakan yang dilakukan Obama dan kabinetnya. Komponen dominan kemajuan bangsa ternyata hanya terletak pada perubahan itu sendiri dan momentum saat perubahan itu dilakukan. Kepintaran mengendalikan dua faktor ini secara imajiner akan menimbulkan kesan bangsa raksasa dengan image yang cerdas dan bijaksana.

Sayang negara kita masih terlalu jauh dari pemikiran cerdas macam ini. Bangsa kita masih berkutat pada transformasi ketokohan yang tak jelas sistem dan hasilnya. Saat kampanye Pemilu bukan main hujatan dan kritikan saling berterbangan ke arah lawan-lawan politik sang jagoan kesiangan. Hebatnya lagi hal itu dilakukan dengan mengatasnamakan rakyat. Padahal kenyataanya rakyat tak pernah tahu apa bedanya strategi pemerintahan di era Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, dan Pasca-reformasi sekarang ini. Lantas perubahan apa yang sebenarnya telah mereka lakukan? Aneh...

[baca selengkapnya...]

10 May 2009

Reality (Crime) Show

Berulang kali terjadi. Terjerembab namun bangga dengan stagnasi pemahaman. Interupsi dan kritik bernada pedas berubah menjadi latar bertema senda gurau. Dunia layar kaca menjadi potret vulgar carut marut dan teori anti etika dari sekelompok manusia kumuh Indonesia. Entah siapa yang diuntungkan. Mereka berkocek tebal dengan rayuan tak penting tentang produk pemutih kulit. Atau penjual kebohongan raut muka bertopeng aktor kelas atas. Atau malah sang model iklan bertato tulang ikan paus yang sama sekali tak mengerti apa yang sedang dilakukannya.

Televisi yang harusnya mendidik bangsa ini tentang pencerahan masa depan. Berubah layaknya kubangan berbumbu kata kotor dan lumpur-lumpur erotisme negatif. Jualan sinetron yang tak laku lagi, memaksa bidikan beralih pada reality show cari-cari orang hilang. Tak ada yang salah. Tak ada yang aneh. Semua pun tahu kalau reality show tak benar-benar real. Karena tak mungkin ibu Manohara tak pernah menonton TV, hingga tak tau kemana harus mengadu soal kejamnya menantu sang putra sultan Kelantan.

Kenapa harus reality show kalau yang dihadirkan hanya dongeng dan skenario murahan tanpa makna berdefinisi. Ada kawan, pasti ada bedanya.

Ada unsur kekerasan yang tak lazim dimunculkan di sinetron kita yang mendayu-dayu. Format baku tentang pornografi pun kan berubah jadi realita kehidupan yang harus disampaikan. Istilah kotor pun cukup diselotip dengan nada-nada tinggi, tak perlu editing total hingga hilang seluruh adegan. Jelas lebih ekonomis dan lebih provokatif.

Tak tahu siapa yang salah. Tapi pasti ada yang bersalah. Merekakah yang salah karena tak mau berubah. Atau kita yang salah karena tak mampu merubah. Jangan membayangkan Anda jadi pahlawan saat datang dan mengobrak-abrik stasiun televisi bersangkutan. Terlalu mahal dan merugikan, karena pastinya sulit untuk online dari balik jeruji. Lihat ke depan Anda saat muka-muka perusak mental bangsa itu muncul lagi. Jika yang Anda temukan adalah remote control Anda, maka saya yakin Anda tahu apa yang harus dilakukan. Semoga...
[baca selengkapnya...]

6 May 2009

Audiatur et Altera Pars

Kekosongan adalah keniscayaan absolutis dari hati dengan ruang-ruang sempit. Kehampaan juga definisi postulatif milik benang kusut perkembangan peradaban. Nilai-nilai luhur yang meredup dan perlahan menghilang menjadikan manusia tak ubahnya seonggok tulang belulang berdebu berbalut daging-daging kemunafikan.

Siapa menjamin bahwa ulama tak menyesatkan. Siapa menggaransi bahwa guru tak membodohi. Siapa pula yang berani melawan kehendak opini bahwa penegak hukum adalah individu yang paling tahu bagaimana celah hukum bisa digagahi.

Manusia tak perlu cangkang untuk sembunyi layaknya siput-siput di bantaran sawah dengan daun-daun padi yang berlubang tergerus kerakusan. Manusia juga tak perlu jejaring sebagai pelindung eksistensi nyawa dalam raga layaknya laba-laba. Manusia memiliki ornamen vital yang membentuk sistem pertahanan diri yang integral dan multifungsi. Lekuk-lekuk dan ukiran indah bersusun gradual itulah kemudian kita namai sendiri sebagai otak.

Otak menjadikan manusia demikian sulit ditundukkan. Perlindungan total terhadap intensitas serangan predator-predator zaman. Kebenaran menjadi mudah terputarbalikkan. Aspek bahaya sungguh terubah menjadi pacuan adrenalin nan menantang. Olah data tentang statistik berputar tak henti di komponen berbobot mini ini. Perkembangan zaman pun dihadapi bukan layaknya dongeng bodoh Darwin soal jerapah melawan evolusi. Komponen otak mendominasi insan tuk bertahan di gilasan roda kehidupan.

Kelebihan bukanlah representasi dari kesempurnaan. Segala palang bermotif plus mendadak dapat berkurang dan menyisakan segaris goresan bertajuk minus. Sistem pertahanan manusia sempurna tatkala himpitan gangguan menekan dari luar. Tapi sistem membanggakan ini rapuh dan tak bergigi ketika harus berhadapan dengan keganasan predator terbaik sepanjang masa. Organ rapuh yang bobotnya tak lebih baik dari otak itu sendiri. Komponen tanpa baut itu yang lantas kita beri nama hati. Menjadi demikian tak berdaya ketika otak harus beradu kepintaran dengannya. Jelas bukan cerdas cermat layaknya murid kelas lima memperebutkan piala. Otak pun harus tertunduk lesu menatap statistik memalukan hasil kompetisinya. Bukan sedikit jumlah kerabat karibnya di luar sana yang telah dipecundangi.

Sungguh ironis menjadi manusia. Harus menyadari kalau sistem pertahanan dan penyerangan terbaik sedunia berada dalam jasadnya. Pertarungan dua sisi jadi penentu nasib es di kutub yang terus mencair. Pertempuran yang juga penentu diameter lubang di atmosfer sepuluh tahun lagi. Perseteruan abadi yang tak kenal berhenti. Hasil akhir pertandingan ketat ini akan terus dinanti oleh koloni siput, laba-laba, dan jutaan spesies Tuhan lainnya. Semoga yang terbaik yang menang..semoga..
[baca selengkapnya...]

1:400

Kondisi kemanan tentunya menjadi nilai dominan dari kemampuan suatu negara untuk menghadirkan para investor di wilayahnya. Faktor keamanan ini tentunya sangat bergantung dari rasio jumlah polisi per jumlah penduduk yang dimiliki suatu negara.

Parameter kuantitatif seperti ini memang tidaklah berarti banyak bila kualitas polisinya tidak cukup mumpuni. Akan tetapi di zaman modern seperti sekarang ini, faktor kuantitas terkadang juga menjadi penentu pada iklim kompetisi dan secara otomatis juga akan berujung pada peningkatan kualitas individunya.

Tapi tahukah Anda bahwa perbandingan jumlah polisi dan penduduk di negara kita amatlah sangat mencemaskan. POLRI sendiri mencatat angka 1:1200 untuk tingkat nasional, yang berarti hanya ada 1 orang polisi dalam setiap 1200 orang penduduk. Di daerah nilainya bisa mencapai 1:2000 bahkan lebih. Angka ini memang jauh sekali dari standar yang ditetapkan PBB yaitu 1:400. Untuk regional Asia Tenggara rasio polisi Indonesia pun masih kalah dibanding Brunei (1:200), Singapura (1:250), Malaysia (1:400), Filipina (1:500), dan Thailand (1:550).

Untuk wilayah seluas Indonesia dengan kondisi topografi yang variatif, rasio polisi kita memang mengkhawatirkan. China sebagai negara yang lebih luas dari kita saja memiliki rasio 1:750. Pemerintah seringkali mengkaitkan jumlah polisi ini dengan tingkat kesejahteraan penduduk Indonesia yang belum semapan negara-negara di atas. Namun lihatlah fakta bahwa negara-negara macam Kamboja saja bisa memiliki rasio 1:700. Vietnam yang juga belum terlalu lama mengecap kemerdekaan mampu mencapai rasio 1:650, atau negara-negara dengan kondisi perekonomian yang tidak jauh lebih baik dari kita seperti Srilangka (1:600) dan Zambia (1:900)

Bila sudah begini keadaanya, apakah bangsa ini hanya bisa pasrah dan menatap setiap lahan tanah air kita dikuasai oleh preman dan pelaku kriminalitas?

Ada satu solusi keamanan terintegrasi yang sesungguhnya bisa dilakukan. Sistem ini dengan mengaktifkan para PNS yang notabene paling bertanggungjawab atas pengelolaan negara ini. Jumlah rasio PNS Indonesia yang diperkirakan mencapai angka 1:60 dengan penyebaran yang sampai ke tingkat desa menjadikan PNS sangatlah potensial untuk turut serta meningkatkan keamanan setempat.

Aplikasinya memang bukan dengan mempersenjatai atau menugaskan PNS untuk menangani kasus-kasus kriminal. Sistem keamanan terintegrasi ini cukup dengan memberi tanggung jawab kepada PNS untuk mencegah terjadinya tindak kejahatan dan melakukan tindakan terbatas di tempat apabila ia menemukan kejahatan. Contohnya adalah apabila di jalanan seorang PNS melihat pengendara motor yang tidak memakai helm, maka ia wajib untuk menahan SIM dan mengadukannya ke polisi terdekat. Atau apabila PNS tersebut melihat aksi pungutan-pungutan liar kepada supir angkutan umum yang dinaikinya, maka ia diberi tanggung jawab untuk melakukan tindakan yang proporsional.

Memang sepertinya ide ini tidaklah realistis, apalagi di tengah polemik upah PNS yang relatif rendah. Namun apakah salah apabila kita berharap adanya perbaikan kondisi keamanan negeri dengan melibatkan individu-individu yang selama ini kita biayai dengan pajak yang kita bayar setiap harinya?
[baca selengkapnya...]