4 May 2009

Perubahan Yang Ingin berubah

Selamat pagi, sore, atau malam. Selamat menikmati hari yang akan membawa anda pergi.Selamat berada di hamparan harapan yang membuat hidup anda menjadi berarti. Waktu kan berubah sedemikian cepat ketika hari dinikmati. Begitu hangat. Demikian ketika hari terus kita nikmati. Selamanya adalah pagi.

Kawan, perubahan adalah keniscayaan. Bayi, remaja, tua. Pagi, siang, sore, senja, malam. Dulu, kini, esok, kelak. Berubah adalah pula keniscayaan. Tak berdaya, dewasa, membuat orang berdaya. Sebagai kepompong yang bermetamorfosa menjadi si cantik kupu-kupu. Bagai induk orang utan yang akan semakin tua dan sakit-sakitan, lalu mati tanpa dikenang.

Ada dua hal yang utama yang ada di sekitar kita: “Perubahan” dan “Berubah”. Perubahan adalah geliat jaman yang semakin mengasah kreativitas kita untuk berdialog dengan tuntutan-tuntutan perkembangan peradaban. Perubahan mau tidak mau pasti akan terjadi. Setiap detak jarum jam adalah isyarat bagi berlangsungnya beribu-ribu perubahan. Sedangkan “Berubah” adalah pilihan; merupakan kesadaran untuk tidak menetap di masa lalu –betapapun cemerlangnya kisah itu. Berubah adalah kesadaran untuk tidak terperangkap di dalam kubangan hari kemarin. Berubah, dengan demikian, adalah mengayun langkah menuju masa baru, suasana baru, pengalaman baru dan banyak hal-hal yang baru. Dengan berubah, kita menjadi manusia baru. Dengan senantiasa berubah, baru kita menjadi manusia.

Kawan, kesediaan berubah berarti kesediaan meninggalkan zona aman kita, sebuah daerah di mana kita bisa memanjakan ego kita, melampiaskan segala kemalasan kita. Zona aman selalu berisi halusinasi yang menipu perasaan kita bahwa tak ada yang dapat menggores kulit mulus kita; tak ada satupun kemarahan yang akan kita terima sebagai sakit bagi perasaan; tak ada yang akan membuat kita capek dan risih dengan keras dan kotornya kehidupan. Zona aman adalah fatamorgana yang mengharubirukan perasaan kita, dan ia tak lebih dari sesosok pembual! Tinggalkan ia, atau kita akan celaka dimakannya; menjadi generasi cengeng, sedikit-sedikit mengeluh, kurang sedikit ngambek. Putus asa. Melihat dunia dengan kesempitan, tidak dengan optimisme. Melihat masa lalu dengan penuh penyesalan. Memandang masa kini tidak dengan percaya diri.

Yang kita butuhkan, pertama, hanyalah keberanian. Perubahan dimulai dari sebuah spirit yang dikombinasikan dengan keberanian. Keberanian untuk berubah, untuk bekerja keras mewujudkan perubahan, untuk menerima hal yang baru, untuk menerima segala konsekuensi dari dari perjuangan menuju perubahan. Keberanian untuk menerima penghargaan atas keberhasilan yang berhasil dilakukan, keberanian untuk dikenang sebagai agen perubahan. Sehingga, sejarah akan bertuliskan nama kita. Memori kolektif akan dihiasi oleh kiprah kita.

Tapi, itu saja belum cukup, kawan. Kerja keras adalah kuncinya. Kerja keras dalam menghadapi apapun resiko dalam menjelang perubahan yang dinginkannya. Memang, apa yang bisa diharapkan dari sebuah layang-layang yang segera robek ketika tiupan angin menerpanya? Ia hanya akan menjadi penghuni tong sampah. Terlupakan. Tapi, lihatlah kebanggaan sebuah layang-layang yang mampu mengawang dengan gagahnya. Lihat pula kegembiraan dan tempik sorak anak-anak kecil di ujung benangnya. Mereka akan merasa, dunia telah digenggamnya. Bahkan rembulan purnama hanya berjarak sekepal tangan mereka.

Masa depan hanya akan dimiliki oleh orang-orang yang percaya pada keindahan mimpi-mimpi mereka. Masa depan hanya akan tunduk pada orang-orang yang menyingsingkan lengan bajunya untuk meraih mimpi-mimpi mereka. Masa depan, hanya akan menjadi hamba bagi orang-orang yang mampu menjadikan dirinya sebagai orang-orang yang pantas memilikinya. Masa depan adalah apa yang diharapkan, dibayangkan, dilakukan, diusahakan di hari ini. Masa depan merupakan serangkaian akibat dari spirit dan upaya perubahan yang sekarang sedang dilakukan.

Lantas, apakah kita bisa? Kawan, mari kita tengok jauh ke dalam diri kita. Mari, sesaat setelah bangun dari tidur pagi, kita bertamasya jauh menyelami seluruh potensi kita. Kita seringkali tidak pernah sadar bahwa otak kita mampu bekerja ribuan kali dari yang dapat ia lakukan untuk kita sekarang. Kita kadang tidak pernah paham bahwa tubuh kita mampu menahan beban ribuan kali lebih hebat dari yang kita rasakan sekarang. Kita, seringkali terlalu bodoh untuk menyadari bahwa kita dapat melakukan banyak hal yang jauh lebih baik dari apa yang kita lakukan sekarang. Resiko, tantangan, cemoohan, cibiran sinis, bentakan dan hardikan yang datang dari luar bahkan merupakan potensi yang akan semakin membuat kita menjadi matang. Lantas, mengapa harus takut pada ejekan, bentakan, hardikan (bahkan ancaman) jika semua itu sesungguhnya adalah mitra perubahan yang akan membuat kita jadi manusia yang lebih baik. Mari kita hadapi semua itu dengan sudut pandang positif. Apapun kesukaran, bersamanya adalah kebahagiaan. Apapun penderitaannya, yang berada di sampingnya adalah kemuliaan.

Tapi, kawan, jangan salah memaknai perubahan. Apakah seorang anak yang tidak lagi mencium tangan orang tuanya hanya karena ia telah menjadi mahasiswa, adalah sebuah perubahan? Bisa YA bisa TIDAK. Apakah seseorang yang berkubang lumpur di sawah ayahnya ketika muda, kini bergelimang harta dan pujian atas prestasinya, adalah sebuah perubahan? Bisa YA bisa juga TIDAK. Lantas apakah yang menjadi alamat bagi seseorang yang telah Berubah?

Menjadi “Berubah”, tidak hanya menjadi lebih baik, tapi juga menjadi lebih santun, lebih indah, lebih berguna, lebih kuat, lebih bijak dan sebagainya. Maka, jangan pernah menjadi lebih baik dengan menjelekkan yang lain. Jangan pernah menjadi lebih indah dengan mencoreng keindahan yang lain. Jangan pernah menjadi lebih bahagia dengan menyakiti yang lain. Mari kita “Berubah” dengan sempurna.

Terakhir, mari kita berhati-hati dalam “Berubah”. Mawas diri, demikian kata orang-orang bijak. It takes years to find good futures, seconds to lose them. Butuh waktu yang sangat lama untuk membangun sesuatu. Untuk merubuhkannya, beberapa detik sudah lebih dari cukup.

No comments:

Post a Comment