5 May 2009

Kupu-kupu Tak Bersayap

Berlari mencoba memahami diri. Mengapa Sang Pencipta tak jua beri kejelasan? Mengapa hina diri harus bertarung mencari sebuah definisi? Mengapa harus begini? Entahlah, hanya waktu yang kan menjadi petunjuk. Hanya Dia yang kan menjadi hakim pembenar. Apakah nanti diri akan membangga jumawa. Atau tubuh kecil ini harus meringkuk di sudut gelap. Berbaris di deretan para terdakwa. Pesakitan yang terlanjur salah memahami.

Apa yang salah dengan kehidupan? Bukankah Kitab memang tak ditulis merinci agar manusia mampu mendefinisi sendiri-sendiri? Karena kita manusia, harusnya kita mampu memahami. Namun apa jadinya bila diri menjadi angkuh. Makhluk berotak sempit yang merasa telah sempurna. Hingga yang muncul kemudian adalah generasi penuduh. Secara serampangan membuat sekat perbedaan. Tidak, saya tak sedang bicara tentang mereka di luar sana. Saya bicara tentang kita. Tentang Anda. Dan mungkin tentang saya. Karena saya manusia, bukankah Anda juga?

Terjadi pengingkaran membaca deretan kata di atas, itu yang saya yakini. Kenapa? Anda tersinggung? Bukankah tersinggung merupakan pertanda kebenaran? Sadari atau tidak, mengaku atau tidak, bukan itu yang penting kawan. Faktanya kini kita berada di satu sisi kehidupan. Atau dengan kata lain, juga akan ada mereka yang berada di sisi lain. Anda tak mau mengakui mereka sebagai musuh? Kenapa? Apa yang salah dengan mempunyai musuh? Bukankah musuh memang antonim dari teman? Jika Anda mau berteman kenapa Anda harus takut bermusuh?

Tergerak hati usai mata menyaksikan siaran di televisi. Tak ada yang istimewa sebenarnya. Hanya seorang wanita berkulit gelap yang sedang memandu acara. Hanya itu. Namun hari itu mungkin menjadi sebuah titik mula bagi revolusi diri. Bagaimana tidak. Hari itu telah hadir sebuah teori. Bahwa manusia terlahir bukan untuk memilih. Pilihan itu telah kita buat dan ada bahkan jauh sebelum mulut kita mengucapkannya. Lantas apa yang sekarang manusia lakukan? Sadari kawan. Kini kita hanya mencari alasan pembenaran atas pilihan yang kita buat dahulu. Tak lebih. Mereka yang gagal menemukan alasan hanya akan menjadi pecundang. Pecundang yang tak memahami peran. Sadari kawan.

Manusia bukan ikan di lautan yang mampu melihat dua sisi sekaligus. Sang Pencipta meletakkan semua mata kita di depan agar kita mampu berfokus pada satu titik. Pada titik di mana kita berpijak, pada titik di mana pilihan itu dibuat, pada titik di mana kita diancam, dihina, diremehkan, dan dipinggirkan atas nama sebuah pilihan. Pilihan yang dahulu telah kita buat.

Seorang penulis mengungkap bahwa manusia tak mungkin berada di dua tempat sekaligus. Tidak secara fisik. Tidak pula secara ide pemikiran. Manusia akan selalu berada di satu sisi. Bila tidak air maka dia akan jadi api. Bila tidak putih maka dia akan hitam. Jika Anda sadari itu, lantas apa yang membuat Anda takut memiliki musuh? Sebegitu naifkah untuk mengakui bahwa kita sedang membenci sesuatu sekarang? Sekali lagi, saya tidak sedang bicara tentang mereka di luar sana. Saya bicara tentang kita. Sebuah pesan untukmu kawan, bermusuhan akan membuatmu lebih manusia. Mengakui musuh akan memudahkan untuk mengakui teman. Posisi tengah memang menghadirkan dua kali lipat teman. Namun pasti juga akan melahirkan musuh sama banyaknya. Bukan begitu?

Kecamuk perang tak akan pernah usai, andaipun pucuk-pucuk senjata telah dipendam. Darah perjuangan tak akan pernah berhenti bergolak, andaipun tubuh telah memucat terbusukkan. Dan untuk kalian musuh kejayaan, hanya ada satu kata…LAWAN!

No comments:

Post a Comment