Detak jam berlalu detik demi detik. Nafas terhela mewarnai indahnya bumi pagi ini. Tidak, bukan hanya pagi ini. Kemarin, kemarin lusa, minggu kemarin, bulan kemarin, tahun kemarin, bahkan sejak nabi Adam baru menginjakkan kaki di sini. Tak ada yang berubah. Bukankah bumi hari ini adalah bumi sama yang pernah diinjak Adam dahulu. Bahkan jika teori keabadian komposisi udara diberlakukan maka (jangan-jangan) molekul oksigen yang kita hirup hari ini adalah bekas molekul oksigen yang pernah mengalir di paru-paru Adam dahulu, atau malah molekul oksigen ini yang pernah mengalir di sela-sela hidung nabi Muhammad. Wah, bangganya jadi manusia. Rasanya takkan ada juga yang berubah sekarang, besok, atau nanti. Semuanya masih akan sama.Selamat datang di negeri para pemimpi. Di sini negeri tanpa masa depan, karena di sini impian dikekang, inovasi otak dimatikan, kreativitas cuma bakal jadi gurauan. Negeri ini menjanjikan kesejahteraan, tapi rakyat dibelenggu tuntutan irasional. Negeri ini menjanjikan keadilan, tapi di sini ada keluarga yang diperhatikan sedang yang lain hanya bisa gigit jari dengan seribu penyesalan. Negeri ini menjanjikan kedamaian, tapi masyarakatnya dipaksa berperang.
Tapi terkadang rakyat bodoh yang bicara. Mau menang tapi tak mau berjuang. Mau kaya tapi tak mau berusaha. Mau pintar tapi otak tak berputar. Malas dan enggan bekerja keras. Apa lagi namanya kalau ini bukan negeri pemimpi.
Di ujung sana bicara tentang surga, cerita sungai susu mengalir di bawah tapak kaki. Tapi kenapa cuma mulut yang bicara. Tangan dan kaki hanya mondar-mandir kesana kemari. Semua hilir mudik tanpa arti.
Ada lagi rombongan yang suka kumpul-kumpul. Katanya sih rapat membahas umat. Kadang malah pakai semalam suntuk. Bagus sih, tapi umat yang mana? Untung saja ini negeri para pemimpi. Di sini tidak penting hasil apalagi prosesnya. Selama sang dewa disuap pempek cuka, LPJ tak bersampulpun pasti diterima.
Lebih lucu lagi ketika rakyat negeri ini kumpul mencari kepala keluarga. Satu orang diperebutkan semua keluarga. Semuanya mendadak mengaku berjasa. Salah tunjuk jadi biasa. Hari ini tinggal di keluarga ini, tahun depan pindah tak masalah. Itu bukan hal jelek di sini. Kepala keluarga di sini memang bukan lahir di keluarga itu sendiri. Masing-masing keluarga memang punya sekolah sendiri-sendiri. Ada yang untuk level satu, ada juga yang sampai tiga. Tapi lulusan sekolah itu tak pernah diakui. Sekolahnya juga hanya basa-basi. Karena di negeri para pemimpi, ijazah bisa dibeli. Sekolah tak membuat pintar di sini. Sekolah cuma jadi tren supaya jadi lebih mudah terkenal. Mendiknas negeri ini pun tak peduli. Yang penting target jumlah murid baru terpenuhi. Masalah akreditasi tak perlu dipusingkan, apalagi kualitas lulusan.
Masalah gender tak ada lagi di negeri ini. Perempuan di sini katanya sudah bermartabat. Perempuan di sini katanya sudah paham dan anti emansipasi. Perempuan di sini hapal luar kepala tentang demokrasi. Makanya bila sudah menikah nanti, jangan suruh mereka memasak. Mereka tak akan sempat. Jadwal rapatnya saja sudah padat. Jangan juga dinasehati. Nanti bisa semalaman berdiskusi. Tapi kalau fisik anak mau kuat, suruh saja mereka yang asuh. Perempuan di sini lebih jago beladiri daripada masak nasi.
Selamat datang di negeri pemimpi. Tak perlu saling menyalahkan di sini. Negeri ini memang tak punya harapan. Negeri ini lebih berani mati daripada berani hidup. Karena itu negeri ini akan segera mati. Kecuali kalau para pemimpi menjadi berani. Berani berpikir bebas dan merdeka. Para pemimpi tidak sedang tersesat di sini. Mereka sedang mencari kebenaran yang tersembunyi. Suatu saat mereka akan bangkit dan merebut mimpi-mimpi mereka. Mereka hanya perlu bangun dan membuka mata.
Ketika manusia memiliki kebebasan untuk merusak maka manusia pun memiliki kebebasan untuk tidak merusak, benar begitu? Atau ada pendapat lain? Kebebasan itu memiliki dua pengertian, yaitu ‘bebas untuk’ dan ‘bebas dari’. Kedua ungkapan tersebut memang dapat dipahami dengan berbagai macam cara, diantaranya ‘bebas dari’ sebagai bentuk kebebasan yang bebas atau lepas dari sesuatu. Dan ‘bebas untuk’ ditafsirkan sebagai bentuk kebebasan melakukan sesuatu atau hal yang ingin dilakukan individu. Bermain dalam tataran hermenetika dan diksi seperti ini akan memerlukan waktu yang lama, melelahkan, dan menyenangkan. Untuk singkatnya, saya sudahi pengertian kebebasan dalam penjelasan diatas.
Selamat datang di negeri para pemimpi. Lelah menuruti semua keinginan hati yang terlalu dalam diselimuti selaput nafsu hitam pekat. Penantian untuk merasa bebas tidak akan pernah berakhir. Karena kebebasan itulah satu-satunya jalan keluar. Namun apakah anda mengerti akan arti dari kebebasan? Apakah anda paham? Ketika kebebasan tersebut tidak pernah ada dalam kehidupan ada. Melihat kehidupan layaknya film yang diputar lambat sedangkan anda sendiri tidak mengikuti alur tersebut. Anda rindu dengannya? Dengan hidup yang sesungguhnya? Hidup tidak sebusuk itu. Kita masih memiliki harapan. Karena harapan adalah satu-satunya yang tersisa. Harapan untuk hidup. Harapan untuk bebas. Bebas dalam arti nyata. Bebas yang bukan sekedar mimpi. Semoga…
No comments:
Post a Comment